PUDJIO SANTOSO

ORA ET LABORA

artikel proceeding

02 November 2012 - dalam Antropologi Agama Oleh psantoso-fisip

INKULTURASI BUDAYA JAWA ATAUKAH KONTEKSTUALISASI TEOLOGI: SEBUAH PENGAMATAN PADA GEREJA KRISTEN JAWA

 

 

Abstract

 

Artikel ini mengkaji  hubunngan budaya lokal (Jawa) dengan gereja Kristen Protestan Jawa yang berkembang di Jawa, khususnya Surabaya. Penelitian kecil dilakukan untuk melihat bagaimana budaya Jawa dalam perspektif sejarah perkembangan dan kondisi saat ini menjadi identitas dari komunitas Gereja tsb.  Kajian didasarkan terutama pada bahan literatur, pengamatan terlibat pada sebuah komunitas gereja Jawa (GKJW) selama kurang lebih 5 tahun, serta wawancara pada tokoh Gereja tersebut. Hasil yang diperoleh menjelaskan bahwa, gereja tersebut tidak mengidentifikasikan diri sebagai gereja etnis Jawa, melainkan lebih sebagai gereja bercorak etnis atau lebih tepat gereja teritorial. Identifikasi diri sebagai gereja etnis dianggap akan mempersulit mereka dalam pengembangan gereja di tengah-tengah komunitas bangsa Indonesia yang multikultural. Namun demikian tak dapat dipungkiri bahwa tradisi dan nilai-nilai budaya Jawa juga bisa kita temukan dalam beberapa aktivitas gereja, seperti ritual ucapan syukur yang menggunakan berbagai atribut khas Jawa, seperti janur, kelapa, pakaian, musik, Tari, dsb. Di samping itu logo dan bangunan depan gereja yang menyerupai logo dalam pewayangan (gunungan). Inkulturasi budaya Jawa sebenarnya ada, namun mereka lebih senang melihat latar belakang budaya Jawa tetap digunakan sebagai bagian dari sejarah pertumbuhan gereja tersebut di tanah Jawa, namun pada saat ini budaya Jawa dipakai sebagai sebuah identitas yang hidup dan beradaptasi dengan budaya-budaya lain serta berbagai permasalahan yang terjadi pada bangsa Indonesia (kontekstualisasi)

 Key words: inculturation, contextualisation

 Introduction

 Artikel ini bertujuan untuk menganalisis mengapa gereja-gereja Kristen yang berwarna etnis Jawa dapat bertahan dalam komunitas masyarakat perkotaan. Secara lebih spesifik, mengapa gereja Kristen Jawa mampu mempertahankan “identitas” Jawa di tengah-tengah kelompok masyarakat yang multietnis di perkotaan. Apakah gereja-gereja tersebut benar-benar beradaptasi dengan budaya Jawa, sekedar memanfaatkan budaya Jawa, atau identitas Jawa yang sedang mengalami perubahan jaman (kontekstualisasi). Di pulau Jawa terdapat 2 kelompok gereja berwarna etnis Jawa, yakni GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan) yang tersebar di Jawa Timur dan GKJ (Gereja Kristen Jawa) yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jabodetabek.

 Tumbuhnya komunitas Kristen Protestan di Indonesia berbeda dengan komunitas Katolik. Agama Katolik masuk ke Indonesia melalui kolonialisasi bangsa Portugis pada abad 7, sedangkan Kristen Protestan masuk ke Indonesia melalui kolonilisasi Belanda pada abad 16. Pada masa itu masyarakat Indonesia telah memeluk agama Hindu, Budha, Islam dan agama-agama lokal.  Pertemuan antara 2 kebudayaan, yakni Eropa dan lokal membawa pengaruh yang cukup besar pada corak keagamaan baik Kristen maupun Katolik di Indonesia pada masa awal.

Pertumbuhan Katolik di Indonesia jauh lebih adaptif dengan kebudayaan lokal dibandingkan agama Kristen. Agama Katolik sangat toleran dengan budaya maupun agama lokal yang telah dianut sebelumnya. Beberapa studi yang pernah dilakukan, baik di Indonesia maupun di Afrika dan China menunjukkan hal ini (lihat, Daeng, 1989; Kurgat, 2009; Wang, 2006). Konsili Vatikan ke-II (1962-1965) menegaskan perlunya gereja (dalam hal ini Katolik) membangun hubungan yang harmonis dengan budaya lokal. Melalui Konsili Vatikan II ini muncul konsep Inkulturasi, yakni suatu proses dimana Kekristenan dipahami dan dihayati melalui budaya yang ada di masyarakat tersebut. Sedangkan Kristen Protestan ketika masuk ke Indonesia menunjukkan sikap yang lebih kaku dan cenderung dilihat sebagai agama yang bercorak budaya Eropa (Belanda). Hal ini bisa dilihat dinamika yang terjadi pada sejarah Kekristenan di Jawa antara penginjil pribumi dan Belanda (Rachmadi,1997; Subandrijo,2009). Dalam pemahaman masyarakat Jawa ketika itu menjadi Kristen sama halnya dengan berkebudayaan Barat. Akibatnya seolah-olah oranng Jawa yang menjadi Kristen telah meninggalkan budaya Jawa. Hal inilah yang menjadi pergumulan komunitas Kristen Jawa sejak pertamakali diperkenalkan hingga saat ini.

Komunitas Kristen bercorak Jawa yang saat ini ada di Pulau Jawa terus berkembang termasuk di wilayah Perkotaan.  Jumlah gereja di bawah naungan GKJW saat ini berjumlah lebih kurang 152, sedangkan GKJ dengan jangkauan yang lebih luas memiliki jumlah gereja kurang lebih 309. Hal yang menarik perhatian penulis untuk mengkaji masalah ini adalah anggota jemaatnya tidak semuanya orang-orang yang berorientasi pada budaya Jawa, seperti Maluku, Flores, Madura, Tionghoa, dsb.

 

Methods

Studi yang dilakukan ini lebih banyak menggunakan bahan pustaka sebagai sumber informasi utama di samping pengamatan yang penulis lakukan selama lebih dari 5 tahun pada beberapa gereja GKJW serta wawancara pada pendeta GKJW. Pengamatan dilakukan melalui pelibatan penulis dalam aktivitas ibadah yang dilakukan pada hari Minggu serta beberapa kali mengikuti ibadah khusus pada saat peristiwa kematian, perkawinan dan ibadah keluarga.

Beberapa bahan pustaka seperti buku “Mewartakan Kasih Allah dalam Konteks Indonesia Masa Kini” memuat diskusi kelompok GKJ dalam melihat gereja yang bercorak Jawa di tengah-tengah komunitas yang multi etnis dan perpolitikan bangsa Indonesia. Kemudian buku “125 Tahun, Tumbuh dan Berkembang dalam Panggilan-Nya. Mojowarno: GKJW Jemaat Mojowarno“ memuat pandangan dan sikap Gereja Kristen Jawa, khususnya GKJW Mojowarno sejak awal berdirinya hingga berkembang menjadi beberapa kelompok gereja baru.

Berdasarkan kedua buku (di samping beberapa pustaka pendukung), serta pengamatan terlibat dan wawancara, penulis melakukan analisis terhadap kecenderungan pandangan dan sikap yang dianut komunitas gereja Jawa tersebut sehingga tetap eksis dan bahkan berkembang, khususnya di wilayah perkotaan.

 Results

Dalam perspektif sejarah Kekritenan di Jawa tidak dapat dilepaskan nama beberapa tokoh seperti Sadrach,Coolen, Emde, Abisai Ditotruno, Paulus Tosari, Kiai Tunggul Wulung dan Sis Kanoman. Perdebatan antara Coolen dan Emde mengenai apakah menjadi Kristen harus melalui proses Pembabtisan atau tidak. Bagi Coolen menjadi seorang Kristen tidak perlu melakukan pembabtisan, sedangkan Emde mengatakan pada orang-orang yang menjadi jemaatnya Coolen, bahwa tidak lengkap bagi seorang penganut Kristen jika belum dibaptis. Demikian pula hal-hal yang lebih bersifat politis mengenai perlu tidaknya organisasi gereja ada di bawah otoritas kolonial Belanda. Dinamika semacam ini terus terjadi tidak saja di wilayah Jawa Timur tetapi juga di Jawa Tengah.

Demikian kuatnya para misionaris Belanda dalam mempengaruhi pemikiran para penginjil pribumi, hingga menjauhkan budaya Jawa dari paham Kekristenan. Namun demikian, dalam kenyataan saat ini, berbagai unsur budaya Jawa melekat dalam berbagai aktivitas dan atribut gereja Kristen bercorak Jawa ini (baik GKJ maupun GKJW).  Misalnya, logo yang dipergunakan mirip dengan “gunungan” dalam wayang kulit Jawa. Di samping itu bahasa Jawa juga masih dipergunakan setidaknya dalam salah satu jam ibadah, demikian pula dalam beberapa peristiwa menggunakan prosesi dalam adat Jawa

 

logo gkjw    logo gkjlogo gunungan

.

Fig. 1: logo GKJW (kiri), logo GKJ (tengah), “gunungan” wayang kulit (kanan).

 

Di dalam Lokakarya Pekabaran Injil Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa pada tahun 2008 membahas berbagai persoalan posisi GKJ dalam Pekabaran Injil di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, serta berbagai masalah sosial,ekonomi, politik dan Hukum yang melanda bangsa Indonesia, serta perlunya melihat nilai-nilai budaya Jawa yang relevan dengan nilai-nilai Kekristenan. Beberapa hasil dari lokakarya tersebut adalah Pekabaran Injil harus: 1) menghindari persoalan SARA (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan); 2) menghargai HAM; 3)membantu pemulihan permasalahan kemiskinan, pengangguran, dan  bencana alam; 4)menggali kembali nilai-nilai budaya Jawa yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.

Dalam hal itu GKJ lebih memilih sikap dan pemikiran yang kontekstual. Demikian pula dengan GKJW, menurut pendeta yang diwawancarai oleh penulis mengatakan bahwa GKJW bukanlah gereja etnis tetapi gereja teritorial. Jawi Wetan bukan menunjukkan budaya Jawa semata-mata, melainkan gereja Kristen yang ada di wilayah Jawa Timur.  Di wilayah Jember terdapat komunitas GKJW yang sebagian besar jemaatnya berbahasa Madura, oleh sebab itu nyanyian dan Alkitab yang dipergunakan pun dalam bahasa Madura.  Di luar ibadah berbahasa Jawa, baik GKJ maupun GKJW hampir tidak menunjukkan budaya Jawa, sehingga jemaat yang mempunyai latar belakang etnis lain dapat mengikuti dan memahami ibadah sesuai dengan liturgi yang dipergunakan.

 

Beberapa tradisi Jawa yang berkaitan dengan ritual setelah hari kematian seseorang (3 hari, 7 hari, 40 hari dan 1000 hari) tidak diakui dan pantang untuk dilakukan oleh Gereja, karena dianggap bertentangan dengan ajaran Alkitab. Yang boleh dilakukan oleh orang Kristen adalah kebaktian penghiburan bagi keluarga yang ditinggal mati. Menurut pandangan GKJ maupun GKJW seseorang yang telah meninggal dunia tidak perlu lagi didoakan sebab hal itu telah menjadi hak dari Tuhan, dan tidak ada seorang pun manusia yang mampu mengubah kehendak Tuhan terhadap orang tersebut.

Akan tetapi dalam Lokakarya GKJ tahun 2008 tercetus pemikiran untuk menilai kembali ajaran Kekristenan dalam konteks budaya Jawa. Hal ini berarti mengenali serta menghargai corak khas masyarakat Jawa, nilai-nilai filosofis, kultural, dan pandangan hidupnya.

 

Discussion

Inkulturasi sebagai sebuah konsep yang dicetuskan oleh Gereja Katolik Roma, sesungguhnya mempunyai padanan konsep dalam ilmu Antropologi, yakni Akulturasi (penyerapan budaya asing oleh budaya lokal tanpa menghilangkan ciri khas budaya lokal).  Akan tetapi konsep ini dianggap kurang tepat, seperti yang dikemukakan oleh Banawiratma seorang pemuka agama Katolik di Indonesia, bahwa penggunaan kata Kontekstual lebih tepat daripada Inkulturasi. Alasannya adalah bahwa kontekstual(isasi) tidak saja mencakup budaya, melainkan ekonomi, politik, dan seluruh pengalaman hidup manusia (1999:90).  Konsep Inkulturasi atau akulturasi melihat budaya Jawa sebagai penerima dan Kekristenan sebagai budaya asing. Seterusnya budaya Jawa tetap ada namun budaya Kekristenan hilang dan melebur dalam budaya Jawa tersebut. Dengan demikian, menurut paham Inkulturasi yang terjadi adalah “orang Jawa yang Kristen” dan bukan “orang Kristen yang Jawa”. Penonjolan budaya lokal daripada kepercayaan Kristen dianggap membahayakan atau berpotensi menyimpang dari nilai-nilai ajaran Kekristenan.

Paham teologi kontekstual dalam budaya Jawa mencuat di kalangan tokoh gereja Jawa karena menganggap bahwa paham Kekristenan harus mengenali dan memahami budaya Jawa, khususnya nilai, nilai dan filosofi budayanya. Injil sebagai “budaya Kristen” berinteraksi dan berdialektik dengan budaya Jawa dalam rangka menemukan kebenaran Allah dalam kehidupan masyarakat Jawa. Sehingga orang Jawa tidak tercerabut dari akar budayanya, demikian juga orang Jawa yang menjadi Kristen mampu hidup bersama-sama dengan orang lain dalam konteks budaya bangsa (Nasionalisme), dan bahkan mampu berinteraksi dengan masyarakat dunia (Globalisasi).

Teologi Kontekstual dianggap tidak mengkerdilkan keyakinan Kristen, namun juga tidak mengabaikan nilai-nilai budaya Jawa. Banyak nilai budaya Jawa yang universal serta sesuai dengan nilai-nilai Kekristenan, misalnya ngunduh wohing pakarti (hukum tabur tuai), sambatan, gugur gunung, tulung tinulung, rukun, guyub  (saling menolong, gotong royong hidup damai dan harmonis atau saling mengasihi), jagad gedhe-jagad cilik (kosmosentris).

Menurut Bediak (1992) yang dikutip dari Kurgat (2009), bahwa pendekatan kepercayaan Kristen tidak dapat diuraikan di luar suatu budaya. Hal ini tidak berarti bahwa budaya lokal lebih tinggi kedudukannya dibanding Injil, tetapi Injil ditransmisikan dan diterima di dalam suatu budaya. Atau dengan kata lain, pendekatan Kristen terhadap suatu budaya merupakan sebuah proses dinamik.

 

Conclusions

Hubungan antara budaya lokal (Jawa) dengan Kekristenan yang terjadi di Jawa tak dapat dipisahkan dari perspektif sejarah masa kolonial Belanda serta dinamika masyarakat yang terjadi di masa itu. Budaya Jawa di satu sisi dianggap sebagai bentuk kekafiran dalam paham Kristen, namun di sisi yang lain nilai-nilai budaya Jawa dapat dipakai sebagai jalan untuk mentransmisikan Injil secara efektif (Inkulturasi).

Di masa kini, dinamika perubahan yang terjadi di masyarakat lokal dan nasional menyebabkan redefinisi budaya lokal yang sesuai dengan ajaran Kristen serta mampu menyerap dinamika di tingkat lokal, nasional dan global (kontekstualisasi). Dengan kata lain, Teologi Kontekstual menjadi sebuah definisi yang saat ini tepat untuk melihat gereja-gereja yang bercorak etnis agar dapat bertahan di tengah-tengah perubahan jaman yang multikultural.

 

References

Aritonang, Jan S, 2009, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Banawiratma, J.B, 1999, “Teologi Kontekstual Liberatif”, in Tinjauan Kritis atas Gereja Diaspora Romo Mangunwijaya, A. Sudiarja SJ. (ed.), Yogyakarta:Kanisius.

Costa, Ruy O, 1988, “Introduction: Inculturation, Indigenization, and Contextualization”. The Boston Theological Institute Annual 2: ix-xvii

Daeng, Hans J., 1989, “Usaha Inkulturasi Gereja Katolik di Manggarai dan Ngada (Flores)”, Disertasi Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Tidak dipublikasikan.

Kurgat, Sussy Gumo, 2009, “The theology of Inculturation and the African church”, International Journal of Sociology and Anthropology Vol. 1(5): 090-098.

Nugroho, Darsono Eko (eds.), 2009, Mewartakan Kasih Allah dalam Konteks Indonesia Masa Kini. Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen.

Rachmadi, Simon, 1997, “Kiai Sadrach 1835-1924: Pergulatan Komunitas Kristen Jawa Pedesaan untuk Mendapatkan Akses ke Dunia Modern Secara Emansipatif dengan Tetap Berbasis pada "Rumah Bahasa" Budaya Lokal. Bahan kuliah Sejarah Gereja di Indonesia.

Wang, Xiao-Qing, 2006, “How Has a Chinese Vilage Remaained Catholic? Catholicism and Local Culture in a northern Chinese village”, Journal of Contemporary China, 15: 687-704.



Read More | Respon : 1 komentar

1 Komentar

miracle

pada : 12 June 2013


"keren nih,,mbantu tugas bgt :D"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Youtube

animasi

jam

Data Pengunjung MyBlog

Pengunjung

    45237